Sabtu, 02 Juni 2012

DESA PETIYINTUNGGAL DI TAHUN 2008


 SELAYANG PANDANG DESA PETIYINTUNGGAL

A.    Deskripsi lokasi
      Kondisi Geografi Desa Petiyin Tunggal
         Secara geografis, desa petiyin tunggal terletak di dataran rendah dengan ketinggian        5 meter dari permukaan air laut dan suhu rata-rata mencapai 32” dengan curah hujan 2000 mm/tahun. Luas wilayah desa petiyin tunggal adalah 684 Ha. Peruntukan wilayah tersebut terdiri dari pemukiman seluas 20 Ha, jalan seluas 1,5 , kuburan  seluas 1  Ha, dan lain-lain seluas 300,4 Ha.
         Desa petiyin tunggal termasuk dalam wilayah Kecamatan dukun, Kabupaten gresik, Propinsi Jawa Timur. Jarak ke ibu kota kecamatan terdekat adalah 15 km, dengan lama tempuh sekitar ¼ jam. Sedangkan jarak ke ibu kota kabupaten terdekat adalah 35 km, dengan lama tempuh sekitar 1 jam.
         Di sebelah utara, batas desa petiyin tunggal adalah desa Serah Kecamatan Panceng. Di sebelah barat berbatasan dengan desa lowayu yang juga masih Kecamatan Dukun. Di sebelah selatan terdapat rawa yang berbatasan dengan desa Tirem Enggal yang juga masih Kecamatan Dukun. Sedangakan di sebelah timur, berbatasan dengan desa Tebuwung Kecamatan kecamatan Dukun.

B.     Bentuk dan Tipe Desa Petiyin Tunggal
         Di lihat dari segi letak keberadaan desa menurut geografinya, desa  petiyin tunggal merupakan Desa ngare, di mana desa ini berada di dataran rendah. Karena itulah desa ini lebih leluasa dalam mengatur lahannya, sehingga mudah memenuhi kehidupan warganya. Desa petiyin tunggal terdiri dari 3 Rukun Warga (RW) dan 6 Rukun Tetangga (RT). Desa ini hanya memiliki 1 dusun, yaitu dusun petiyin, yang terdiri dari 1 RW dan 2 RT. Antara desa induk dengan dusun dihubungkan melalui jalan atau lorong sepanjang 0,2 km. Di desa induk terdapat pusat kegiatan warga, seperti kantor desa, kuburan, masjid, pasar, sekolahan, dan lain-lain.
         Rumah-rumah penduduk terletak berjajar di sepanjang kanan-kiri jalan dan juga masih banyak lahan kosong karena desa ini termasuk desa yang kacil akan tetapi wilayahnya cukup luas,. Jumlah rumah hunian di desa Petiyin Tunggal adalah sekitar 288 buah. Hampir semua bangunan berdinding tembok, beratap genteng, berlistrik, dengan lantai semen, tegel atau keramik. Bentuk rumah penduduk pun bervariasi, ada yang membentuk leter L, horizontal, vertikal atau bertingkat, dan limas. Sebagian besar rumah penduduk telah berdesain modern, hanya beberapa rumah saja yang masih berdesain tradisional sebagai bukti pelestarian peninggalan nenek moyang.
         Lebar jalan utama menuju pusat kota di Petiyin Tunggal adalah 12 meter dan sudah beraspal. Atas swadaya masyarakat, jalan dan lorong desa Petiyin Tunggal pun  sudah beraspal. Kondisi jalan ini membuat arus lalu lintas yang masuk dan keluar desa cukup lancar disamping juga karena jarang kendaraan yang lewat. Sepanjang jalan utama desa masih banyak berdiri pepohonan dan sebagian toko-toko serta warung-warung kecil yang menjual makanan dan minuman ringan.
         Desa Petiyin Tunggal merupakan tipe desa pertanian perikanan dan peternakan, dan ada juga sebagai pengrajin kayu, karena sebagian besar kehidupan penduduknya bergantung pada potensi alam dan sebagian merantau.

C.    Demografi
a.      Jumlah Penduduk Desa Petiyin Tunggal
         Penduduk desa Petiyin Tunggal pada tahun 2007 sekitar 1.052 jiwa. Dengan rincian, 587 laki-laki dan 465 perempuan, serta terdapat 550 Kepala Keluarga (KK). Jumlah ini juga mencakup jumlah keseluruhan penduduk di dusun Belahan, yaitu 136 laki-laki, 197 perempuan, dan 102 KK

b.      Tingkat Ekomomi Penduduk
         Gambaran mengenai ekonomi penduduk desa Petiyin Tunggal dapat dijelaskan dari sumber mata pencaharian yang ada saat ini. Jenis mata pencaharian ini berkaitan dengan pekerjaan pokok. Mata pencaharian penduduk Petiyin Tunggal pada umumnya adalah bekerja disektor pertanian, peternakan, wiraswasta, PNS dan sebagian kecil para pemuda merantau kenegeri sebrang.
         Tercatat pada tahun 2007, jumlah petani sebanyak 625 orang, wiraswasta 200, peternakan 27 orang, PNS 30 orang dan para pemuda yang merantau 170.

c.       Tingkat Pendidikan
         Sesuai dengan kemajuan pembangunan dan kegiatan pembangunan dalam bidang pendidikan, khususnya wajib belajar sembilan tahun bagi masyarakat, maka secara bertahap struktur pendidikan masyarakat desa Petiyin Tunggal mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Gambaran tingkat pendidikan masyarakat desa Petiyin Tunggal pada tahun 2007 sebagai berikut:

TINGKAT PENDIDIKAN
PENDUDUK DESA PETIYIN TUNGGAL
TAHUN 2007
No
Jenis Pendidikan
Jumlah (Jiwa)
Persen (%)
1
Belum Sekolah/ Buta huruf
55
17,53
2
Tamat SD/ sederajat
458
26,11
3
Tamat SLTP/ sederajat
256
21,86
4
Tamat SLTA/ sederajat
229
18,80
5
Tamat Perguruan Tinggi/ sederajat
54
15,57
JUMLAH
10.52
100,00
Sumber: Monografi Desa, tahun 2007.

         Angka struktur pendidikan masyarakat di atas jelas sangat menggembirakan sebab 15,57 % penduduknya telah lulus perguruan tinggi/sederajat. Dari informasi pendidikan di atas, masih dijumpai masyarakat yang buta huruf, terutama  masyarakat yang berusia di atas 60 tahun. Sampai pada tahun 2007, penduduk petiyin tunggal yang melek huruf sebanyak 997 jiwa atau 73,89 % dari jumlah penduduk. Ini berarti bahwa masih ada 26,11 % penduduk yang masih buta huruf. Menurut kepala desa, mereka yang buta huruf inilah yang termasuk juga dalam kelompok keluarga miskin.

d.      Keagamaan
         Di tilik dari agama yang dipeluk masyarakat, di desa Petiyin Tunggal hanya terdapat satu agama, yaitu agama Islam . Sebagian besar penduduk petiyin tunggal beragama Islam dengan jumlah penduduk sebanyak 10.52 jiwa . Selaras dengan proporsi itu, sarana beribadatan pun, yaitu berupa Masjid 2 buah dan Langgar/ Musollah 5 buah.
         Kegiatan keagamaan Islam di desa Petiyin Tunggal cukup semarak. Tidak kurang dari 125 umat Islam menjadi anggota jama’ah pengajian. Sedangkan perkumpulan keagamaan seperti IPNU/IPPNU 109 orang pemuda-pemudi. Penanda lain dari gairah berkegiatan agama juga tampak dari makin berkembangnya prasarana peribadatan dan lembaga pendidikan Islam, seperti lembaga pendidikan Madrasah Ibtidaiyah yang sekarang jumlahnya 1 buah, SDN 1 buah dan TPQ sebanyak 2 buah
         Hampir semua pembangunan rumah peribadatan Islam bersandar pada swadaya masyarakat setempat. Bukan hanya itu, setiap tahunnya penduduk petiyin tunggal juga memberikan santunan bagi anak yatim dan mengadakan kegiatan pembinaan keagamaan yang dilaksanakan melalui perjalanan tour ke Wali Songo.

e.       Kesehatan
         Pada setahun terakhir ini, wabah penyakit yang menyerang desa petiyin tunggal tercatat 2 kasus demam berdarah, 3 kasus tipus dan 3 kasus Muntaber. Fasilitas kesehatan yang tersedia sebuah Puskesmas pembantu,  yang terletak di pusat desa.
         Kegiatan pelayanan kesehatan seperti KB dan Posyandu berjalan dengan baik di desa Petyin Tunggal. Peserta KB aktif sebesar 74, 80 % dari pasangan usia subur, yaitu 537 orang dengan kontrasepsi terbanyak menggunakan suntikan KB dan Pil IUD. Sedangkan kegiatan Posyandu dilakukan dalam bentuk pemeriksaan ibu hamil, penimbangan bayi/ balita, dana sehat, penyuluhan kesehatan, dan immunisasi.
         Selain pelayanan kesehatan melalui fasilitas yang ada, kesehatan masyarakat juga dapat dilihat dari ketersediaan air bersih. Air minum dan air bersih tidak ada masalah dalam ketersediaannya, baik di Petiyin Tunggal sebagai induk desa maupun di dusun Petiyin. Tercatat 550 KK  menggunakan sumur gali.

B.     Karakter Masyarakat
         Secara longgar, ada dua kategori penduduk di desa Petiyin Tunggal, yaitu penduduk asli atau pribumi dan penduduk pendatang. Data sementara menunjukan 145 jiwa atau 31,97 % dari 1052 penduduk petiyin tunggal adalah pendatang. Karena didasarkan pada latar belakang yang berbeda, maka karakteristik mereka pun juga terlihat berbeda.
         Dari segi pola interaksi dan komunikasi, tampak bahwa keluarga pendatang memiliki frekwensi interaksi yang menurun karena kesibukan masing-masing. Komunikasi lebih egaliter, gradasi dalam berbahasa (ngoko, basa, lan kromo inggil) makin berkurang pengaruhnya.
         Anjangsana antar kerabat pun makin memudar. Dalam berkomunikasi, bahasanya pun kurang menunjukan tingkatan-tingkatan yang ketat, kedudukan menurut silsilah dan hubungan kekerabatan makin diabaikan. Anak-anak mereka malu menyebut paman bila sang paman berusia relative sama, paling-paling dipanggil Mas atau Mbak.
         Hal ini sangat berbeda dengan penduduk asli petiyin tunggal, mereka sangat menjunjung tinggi hubungan kekerabatan. Bahasa yang digunakan pun halus, mereka slalu menggunakan bahasa Kromo Inggil jika berbicara dengan orang yang lebih tua ataupun orang yang dihormati.
         Bentuk masyarakatnya adalah Gemeinschaft (paguyuban). Komunikasi lisan di antara mereka cukup dominant. Mereka mengartikan gotong royong sebagai partisipasi dalam bentuk tenaga. Jika gotong royong dilakukan dalam bentuk pembangunan jalan atau pembersihan lingkungan, mereka menyebutnya dengan istilah “Kerja Bakti”.
         Solidaritas dan empati di antara masyarakat petiyin tunggal khususnya para pribumi, terjalin dengan baik. Cenderung diyakini bahwa tidak mungkin kalau sesama warga asli Petiyin Tunggal berniat saling menjatuhkan atau menjerumuskan. Sekejam-kejamnya mereka, tidak akan tega terhadap saudara-saudaranya sendiri (tego lorone ora tego patine). Dalam ungkapan lokal, masyarakat desa petiyin tunggal termasuk dalam kategori orang yang masih berprinsip “Paseduluran”.